Adakah orang yang tidak ingin melihat perubahan pada nasibnya? Adakah orang yang sudah tidak ingin melihat perubahan pada takdirnya? Adakah orang yang apatis akan adanya perubahan pada dirinya? Kalau bicara normalnya manusia, tentu tidak ada. Semua manusia awalnya ingin melihat perubahan. Ini karena semua manusia menghadapi “tuntutan” untuk berubah.
Kalau melihat renungan Aristotle, apa yang disebut “tuntutan” untuk berubah itu antara lain: perubahan keadaan eksternal, keadaan alam, paksaan, kebiasaan, visi (alasan mendasar), dorongan dari dalam (semangat atau motivasi, keinginan atau kemauan). Kalau dikelompokkan, tuntutan untuk berubah itu ada dipicu oleh faktor eksternal (keadaan dan orang) dan ada yang dipicu oleh faktor internal (keinginan atau inisiatif diri sendiri).
Itu kalau bicara pemicu (the trigger). Jika pertanyaannya adalah “Darimana perubahan dimulai”, maka baik Al‐Qur’an, ilmu pengetahuan dan pengalaman banyak orang punya kesimpulan yang sama. Kesimpulannya adalah: perubahan itu harus dimulai dari dalam diri. Ini yang kerap membuat banyak orang terjebak untuk memedomani teori hidup yang keliru. Banyak orang yang memedomani teori bahwa perubahan itu harus berawal dari luar. Karena itu, banyak orang menunggu, mengandalkan, menuntut atau membiarkan keadaan. Keadaan eksternal itu selain hanya sebagai pemicu, ia pun tidak lebih sebagai pendukung (supportif). Sementara, kita berperan sebagai penentu dan penyebab (determinant & cause)
Biarpun kita berada dalam keadaan yang mendukung untuk menciptakan perubahan‐perubahan, tetapi kalau kitanya tidak mau, terciptakah perubahan itu? Jawabnya jelas tidak. Tidak akan ada perubahan. Begitu juga kalau kita sudah melakukan banyak perubahan di tingkat faktor eksternal namun tidak dibarengi perubahan internal. Fakta‐fakta yang ada menunjukkan bahwa perubahan itu tidak terjadi secara signifikan. Paling banter han ya sementara atau tergantung.
Dalam teori karir ada ilustrasi yang menggambarkan orang yang sering pindah‐pindah tempat kerja atau profesi. Orang seperti ini (yang sering disebut kutu loncat), tentu banyak di sekitar kita. Cuma yang jadi pertanyaan adalah, ada orang yang karirnya semakin bagus dengan menggunakan jurus ini, tetapi ada yang tetap saja karirnya tidak membaik. Ujung‐ujungnya sama saja seperti dulu. Apa yang menyebabkan?
Berbagai penelitian telah mengungkap jawabannya. Salah satu jawaban itu adalah: orang yang berada di kelompok pertama melakukan perubahan internalnya seiring dengan adanya perubahan eksternal. Ini misalnya saja yang bersangkutan memperbaiki cara kerjanya di tempat yang baru atau di profesi baru atau juga meningkatkan keahliannya dan pengetahuannya. Ini tidak dilakukan oleh kelompok kedua. Mereka hanya mengandalkan perubahan eksternal semata. Akibatnya, nasib karinya berputar lagi ke titik semua.
Temuan di atas klop sudah dengan petunjuk Al‐Qur’an. Al‐Qur’an menunjukkan begini:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (ar‐Rʹadu: 11)
Yang dimaksud dengan “mengubah keadaan suatu kaum” adalah perubahan eksternal yang terjadi pada masyarakat itu. Sedangkan yang dimaksud dengan “mengubah keadaan yang ada pada diri mereka” adalah mengubah dunia batinnya. Termasuk cakupan dunia batin itu luas, misalnya cara berpikir, cara bersikap, keahlian, pandangan hidup, akhlak, dan lain‐lain. Artinya, keadaan suatu kaum tidak akan diubah oleh Tuhan kalau kaum itu sendiri tidak mau mengubah diri mereka. Sayyidina Ali menegaskan bahwa barangsiapa yang memperbaiki dunia batinnya, maka Allah akan memperbaiki dunia lahirnya.
Kesimpulan Charles Millhuf mengatakan:“Keadaan hidupmu diciptakan dari tiga hal yang kamu pilih, yaitu: a) disiplin atau kebiasaan hidup yang kamu jalankan, b) orang‐orang yang kamu ajak bergaul, dan c) hukum yang kamu taati.ʺ Selama dua puluh tahun menekuni profesi sebagai konsultan SDM, Dr. Nightiniangle menyimpulkan bahwa dunia di dalam diri manusia akan menentukan dunia di luar dirinya. Les Brown menunjukkan temuannya di lapangan bahwa setiap dirinya melihat ada nasib orang yang berubah ke arah yang lebih baik, perubahan itu diawali dari dalam diri orang itu. “Mereka menjadi baik karena mereka punya kesimpulan yang lebih bagus tentang kemampuannya”
Apa yang kita bahas di buku ini dari awal sampai akhir, sebenarnya bukan barang baru tetapi lebih merupakan penegasan baru agar kita ingat atau sadar (New Altered Awareness). Kalau disimpulkan, perubahan nasib yang ditawarkan dalam buku ini perlu dimulai dari dalam diri, yang antara lain:
Pertama, memilih pemahaman yang suportif dan kondusif tentang takdir.
Seperti yang sudah kita bahas, baik kita menyimpulkan bahwa nasib kita itu ditentukan oleh Tuhan atau oleh kita sendiri (dengan kemampuan yang sudah diberikan oleh Tuhan), itu benar. Tetapi, karena kita ingin melihat perubahan positif, maka kita perlu memilih pemahaman yang kondusif dengan keinginan kita.
Kedua, membekali diri dengan bekal mental dan meterial. Termasuk bekal mental di sini adalah mengubah cara berpikir, memperbaiki sikap, memperbaiki harapan, memperkuat kepercayaan diri, meningkatkan keimanan, dan lain‐lain.
Sedangkan yang termasuk bekal material di sini misalnya adalah barang atau benda yang kita butuhkan untuk mengubah nasib kita. Kalau kita ingin meningkatkan keahlain, tentu kita butuh uang, minimalnya untuk membeli buku, untuk transportasi dan lain‐lain. Soal berapa jumlahnya, ini soal lain.
Ketiga, menciptakan perubahan pada dunia luar. Ini misalnya kita perlu mengenal orang‐orang baru yang lebih mendukung; perlu hijrah ke tempat baru apabila di tempat lama kita menghadapi halang rintang yang belum mampu kita hadapi, dan lain‐lain.
Nagome, seorang yang sudah bertahun‐tahun menekuni profesi sebagai pelatih atlet menyimpulkan bahwa perkembangan seorang atlet itu tidak ditentukan oleh perubahan dunia lahirnya semata. Perubahan dunia lahir yang tidak diikuti dengan perubahan dunia batin akan sama saja. Kesimpulannya mengatakan:
“Hambatan mental merupakan sesuatu yang menjadi penghalang bagi kemajuan seorang atlet dalam menaikkan keahliannya. Tak peduli berapa jam latihan, mereka tetap tidak bisa mencapai kemajuan yang berarti. Hal ini karena masalah yang harus diatasi tidak berada di depan mereka melainkan di dalam diri mereka.” Semoga ini bermanfaat.






